Pagi ini terpikirkan untuk menulis tentang ini.
Beberapa hari ini saya telah melewati sebuah masalah yang membuat saya sangat stress, meledak-ledak setiap hari terlebih saat malam tiba. Sempat membuat diri sendiri khawatir kepada diri sendiri (loh kok). wait wait, maksud saya begini..
Pada suatu titik, saya terkadang merasa terbagi dua antara saya yang real yakni yang sedang mengalami kenyataan itu dengan saya yang wise yang berusaha menasehati diri saya sendiri.
Lantas, apa hubungannya dengan strict parents ?..
Beberapa hari ini saya sering melihat dan membaca artikel tentang strict parents, di mana istilah itu dimaksudkan bagi orang tua yang terlalu ketat dan mengekang anaknya. Seketika saya mengingat model parenting orang tua saya, lalu mengamati diriku sendiri. Dampaknya memang seluarbiasa ini. Di beberapa artikel menampilkan dampak buruknya saja. Di sini saya ingin memberikan dampak baiknya dulu.
Orangtua saya adalah strict parents yang sangat sangat strict, dari kecil harus paham aturan, ikutin aturan, tidak ada kebebasan memilih, apalagi berpendapat, baru ngomong sedikit sudah dipotong, segalanya dibatasi, mengapresiasi saat saya mendapatkan hasil yang baik, menjatuhkan saat tidak mencapai target, dibandingkan dengan anak lain.
mana dampak baiknyaa,,,
Dampak baiknya adalah dari kecil sampaii detik ini, saya ingat hanya pernah melontarkan kata kotor ke oranglain/teman saya 1 kali dan setelah itu saya benarbenar merasa amat berdosa. Saya dididik untuk selalu berusaha menggunakan pilihan-pilihan kata yang halus, jika berkata kasar maka akan dibentak habis-habisan. Saat mendengar orang berkata kasar/kotor seperti menyebut beberapa jenis nama hewan, hati saya akan tidak nyaman. terlbih jika itu ditujukan ke saya, saya akan merasa sangat takut, sedih, tertusuk (ciehh), seriuss -_-.
Selain dari segi bahasa, saya terlatih untuk bisa mengalah, mendahulukan orang lain, tapi mungkin bagian ini tidak selamanya baik, karena kita juga harus paham kondisinya.
Mengikuti aturan, seperti jam main, jam keluar malam, malah tidak boleh keluar malam, Jadi dari dulu jika sudah keluar dalam waktu tertentu hati akan merasa tidak tenang dan terpikir untuk segera pulang. Karena takut akan akibatnya.
hal ini terus berlanjut sampai suatu hari saya semakin dewasa dan mulai berpikir untuk memberontak.
-_-
di sinilah letak buruknya,.
Sejak sekolah mulai jauh dari rumah orang tua, saya harus nge-kos walaupun masih di teman bapak saya agar saya tetap terawasi. Tapi rasanya luaar biasa, seperti sedikit demi sedikit mulai menemukan apa yang saya inginkan. apa itu rajin belajar?, saya lebih bahagia mengikuti kegiatan ekskul dan sejenisnya, ya walaupun saya tetap adalah peserta yang pasif dan pendiam, tapi saya bahagia melihat teman-teman yang ramai, dan jika sudah bertemu teman yang pas saya juga bisa menyesuaikan dengan keramaian mereka. Punya teman-teman seru yang sering main ke kos, mau nginep di tempat saya juga bisa, (tidak terjadi sebaliknya, karena takut dimarahi). Namun saat liburan tiba, saya mulai sedih, karena saat teman-teman mengajak berlibur walau sekedar berkumpul di rumah teman , itu tetap saya tidak bisa ikut. tidak boleh. lama kelamaan sudah terbiasa dengan keadaan itu dan saya tidak berharap lagi di liburan-liburan berikutnya. ini terus berlanjut hingga saat ini. Namun, semakin ke sini semakin paham dan mencari solusi sendiri. saat di rantauan saya habiskan dengan bertemu teman-teman (walau hanya di sekolahan/tempat kuliah), saat di rumah saya lebih baik manfaatkan untuk membantu mamak saya. Hal ini saya sadari saat mama saya berkata " kamu sudah terlalu sering jauh dari mamak, kadang kangen engga sih", di situ saya tersentuh dan mencoba merubah pola pikiran, saya mungkin terlalu fokus dengan membalas dendam ketidak bebasan saya.
Selain itu, anak hasil dari strict parents akan susah sekali berkomunikasi, mengeluarkan pendapat, merangkai kata saja dipikir berulang-ualang kali , "apakah ini sudah baik, bagaimana jika pendapatku salah, bagaimana jika menyakiti orang lain", bagaimana bagaimana dan bagaimana yang berujung lebih baik diam. Hingga detik ini pun begitu,. Tidak percaya diri, tertutup, susah membuat keputusan sendiri, susah mengeluarkan ide, susah percaya seseorang, dan yang akhir-akhir ini saya rasakan adalah susah mengelola amarah.
Oleh sebab saya dididik dengan seperti demikian sejak kecil, saya terbiasa hanya untuk sebagai pendengar. sampai sekarang, mungkin manfaatnya orang-orang atau teman teman saya menjadi nyaman untuk bercerita ke saya, karena saya tidak akan memotong ucapan mereka, mendengar sampai selesai, mendengar sampai lawan bicara saya puas bercerita. Namun, karena hal tersebut saya malah terkadang mencerna dan ikut memikirkan masalah-masalah itu menyimpannya. Jika di situasi mental yang baik, saya tidak akan terpengaruh. tetapi jika di situasi mental yang buruk, itu akan menjadi boomerang untuk saya sendiri, seperti kemarin. Saat di kondisi badan sangat lelah, suasana hati yang tidak nyaman, masalah datang, kemudian harus mendengar curhatan orang lain juga, seakan di dalam otak ada tekanan ke segala arah, perasaaan seperti disisipi ganjalan yang menusuk dan meledaklah..
Parahnya lagi, tidak ada tempat bercerita, karena sangat sulit memercayakan sebuah cerita ke orang lain, khawatir disebar, khawatir dijadikan bebannya, terlalu banayk kekhawatiran.
Pernah saya coba menceritakan ke seseorang lalu ia berkata kepadaku, "kamu sudah dewasa seakan ingin bilang uruslah sendiri, kamu dewasa kamu pasti bisa mnegatasinya". Kuhembuskan napas dalam-dalam dan berkata ke diri sendiri "Iya memang benar saya sudah dewasa dan saya pasti bisa menyelesaikannya, saya tidak butuh orang lain", menepuk bahu sendiri dan lain lain. Pernah juga saat saya mencoba bercerita lalu malah dibandingkan dengan masalahnya sendiri, dan mungkin terlihat tidak ada apa-apanya dibanding dia.
hal-hal demikian semakin membuat saya terdiam, dan pilihan diam adalah yang terbaik. Pendam sendiri, redakan sendiri, selesaikan sendiri.
Bagi saya, salah satu media mengobati diri sendiri selain menangis adalah dengan menulis.
Tujuan saya menulis ini apa? menyalahkan orang tua, mencari perhatian/pembenaran.
Orangtua saya mungkin adalah strict parents akut, saya sadari segala dampak baik buruknya. Tapi saya tidak menyalahkan beliau, sudah berlalu, itu cara mereka mendidik dan menyayangi saya., yang perlu saya lakukan adalah memperbaiki yang menurut saya keliru.
Tujuan saya menulis ini juga bukan untuk mencari pembenran/perhatian, saya hanya ingin menuangkan isi pikiran yang bahkan untuk menulis ini butuh waktu lama untuk merenungkan dipost atau tidaknya.
Semoga ada baiknya.
apapun keadaan mentalmu saat ini, semoga kamu bisa bangkit lagi, ceria lagi
jangan lama-lama diratapi, luapkan saja dengan versimu dan benahi.
Selamat beraktivitas.
alur tulisan ini agak kacau, karena banyak part yang ingin saya ceritakan. mungkin di lain waktu.:)
Komentar